
The Maubere Digital Army is bits of Rahung Nasution; yang merayakan hidup tanpa celana dalam, travelling, books, movies, kisses, gembok, berbagi sikat gigi, makan pete dan tentu saja sajak-sajak Pablo Neruda. Juga ingatan-ingatan seputar Salvador Allende, Isabel Allende, Gabriel Garcia Marquez, Frederico Garcia Lorca, sang staylist Idrus (Uncle Ho—Road to Rome), binatang jalang Chairil Anwar, Bung Pramoedya, Monica de la Torre, Michael Bakunin, Michael Franti, Jose Saramango, Camilio Jose Cela, Anarchist cooks book, tempe goreng, Heppy Salma, sambel terasi revolusioner (proletariat arround the world, unite!), vodka, arak bali, tua sabu, daun sawi, rembulan, merakit bom, tanah basah, membajak pesawat, kupu-kupu, ranjang, ompu nasangti, gordang sembilan, ngarai sianok, donggala, los palos, kebun pala, edgeware rd di new town, Chiapas, Manu Chao, Victor Jara, pasar loak, Kalimantan (kapan hutanmu kami babat habis?), Timor-Leste (hampir enam tahun bersama dan di bulan mei dengan rentetan senapan otomatis bersama otak yang berceceran di kaikoli, tentara yang memberontak, picik-licik tritunggal Xanana-Horta-Gereja, paun do Maubere, benteng peninggalan Belanda di Maubara, Vicente Reis ‘Sahe’, Farol (mercu suar), rumah bambu di Bucoli, semerbak harum bunga-bunga kopi, amis darah, paichau dengan pusaran mata elang, pulau Jaco dan kura-kura, terumbu karang, kerapu, kakap dan emping melinjo), hmmm…..
Dan lagi-lagi Jogya yang kadang membuatmu lelah. Tentu saja terompet Miles Davis dan sebuah novel yang tak pernah usai….
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
aku senang baca tulisanmu, memberikan aku info tentang Timor Leste yang sedang hancur kepemimpinan. kalau bisa tolong email aku ya.
Komentar oleh Robin dos santos Mei 21, 2007 @ 12:01 pmaku robin, orang Lospalos, kita pernah ketemu di Talitakum farol Dili.
’seandainya penulis ini mau menulis dikala senja, pasti ia akan mendapatkan novelnya di akhir cerita’
Komentar oleh Alexias Juni 7, 2007 @ 10:53 amsaya sangat senang menbaca tulisan-tulisanmu,mengenai berita-berita tentang Timor leste. andaikan semua Jurnalis dan wartawan di timor leste ini seperti anda maka akan lain cerita
Komentar oleh Papamoko September 14, 2007 @ 6:07 amNama2 yang tercantum dalam ‘intrduction’mu memberi sedikit gambaran ttg pola pikirmu. Semoga ini mendapatkan semangat lingkungan yang mendukung di Mauber. Sayang Timor Leste akhirnya lahir setelah menjalani sejarah yang menciptakan suasana patriotik setelah menjalani proses yang memaksa kekuatan barat melalui perpanjangan tangannya PBB menjadi dominan. Pada awalnya di tahun tujuh puluhan sikap patriotik suatu bangsa terjajak ratusan tahun oleh portugis masih murni untuk menjadi bangsa merdeka dan berjuang untuk kecerdasan serta kehidupan wajar rakyatnya. Namun demikian saya kagum akan kehadiran anda dikancah ini.
Komentar oleh Rivai Pulungan Oktober 17, 2007 @ 7:34 amRahung Nasution,
Kau memang luar biasa, di saat orang semuda Kau paling cari duit sebanyak2nya di Jakarta dengan memanfaatkan kelengahan dan kebodohan orang lain.
Kau menulis dengan Hati, Rahung. Kau membuat bangga Indonesia, terlepas banyak kata-kata Kau yang menurut Aku vulgar, tetapi itu dapat dimaafkan dengan konteks Kau menulis.
Sangat mengasyikkan membaca Blog Kau ini, teringat Aku ketika membaca Bumi Manusia for the first time di tahun 1986, masih SMP lagi Aku. Kemudian membaca Anak Semua Bangsa di tahun yang sama. Masa Orde Baru tidak mengizinkan Kami membaca itu. Aku beruntung karena punya Saudara yang punya Toko Buku di Bukittinggi.
Rahung, sekarang setelah Aku dewasa, Aku memilih masuk Sistem dan hopefully bisa berkarya di dalamnya. Kalau pun tidak Aku berdo’a agar semuanya bisa menjadi Amal Sholeh yang akan dihisab di Yaumil Akhir dan menerima Catatan dari tangan kanan Aku begitu juga dengan Keluargaku dan murid2ku
Rahung, tabik buat Dirimu.
Keep the good work, really damned good, Man.
Edo Siregar
Komentar oleh Edo Siregar Oktober 29, 2007 @ 7:56 amHoras…
Salam kenal untukmu lae Rahung.
Membaca blogmu ini untuk kesekian kalinya, sebagaimana hutangku telah terlunasi dengan meninggalkan jejak disini. Ternyata melebihi itu semua.
Aku sebenarnya tak begitu tertarik dengan isi blog mu ini lae, jujur – memuakkan, mkg karena bukan bidang yg aku fahami. Tapi caramu menulis dan keyword yang ada di halaman ini, cukuplah sudah (setidaknya buatku) – menggambarkan siapa dan karakter seperti apa dikau, kebebasanmu, pemberontankanmu, milintansimu, yang jelas dan pasti gaya merokokmu (seperti pic diatas, agak narsis jika itu adalah kau lae).
Sekali lagi, salam kenal untukmu lae.
Komentar oleh jeha hutasuhut Desember 14, 2007 @ 10:48 amHoras
Rahung !
Kau memang laknat dan member of keple lanang yogyakarta.
Dimana kau ?
Ayo, katanya mau cari darah anjing…
http://darkfolkloreart.wordpress.com
Komentar oleh darkfolkloreart Desember 28, 2007 @ 4:59 amrahung, romantisme analog ke digital!!!
Komentar oleh saksi Maret 9, 2008 @ 7:35 pmrahung nasution, keturunan anjing mandailing. yang gue tahu, loe itu, suka ngentot ame perek – perek…
kayaknya otak loe dahj eror, karena makan kontol and memek perek and gigolo.. loe yeh … he heh he..
jangan tersungging yeh…
Komentar oleh deb Maret 1, 2009 @ 2:21 pmsorry lae. gue dah baca tulisan loe. kayaknya loe suka jelek – jelekin tulisan orang, nah gue baca tuliusan loe itu, KONTOL AND MEMEK SEMUA..
EH LATE, BUJANG INAM…. MARTOLOE JNJONG LAH KAU DENGA EMAK KAU DAN BAPAKAU YANG MANDAILING ITU….
Komentar oleh deb Maret 1, 2009 @ 2:24 pm