maubere digital army


Project

Documentaries

2003

“Liquisi Ami Nia Rai”
Documentary / 17:45 min. / Mini DV
Director & Editor: Rahung Nasution
Scriptwriter: Nuno Rodrigues Tchailoro
Camera people: Rahung Nasution, Vonia Viera
Subtitles:** English

Description: Liquisi Ami Nia Rai (Liqusi is Our Land) looks at the history of Timor Leste’s coffee plantations –a legacy of the Portugeuse colonial era. Coffee farmers are struggling with low prices, unresolved conflicts over land reform, and the monopoly of the coffee trade in Timor Leste.

2004

“Tasi Timor, Timor Leste Nia”. Documentary / 25:23 min. / Mini DV
Director, Scriptwriter & Editor: Rahung Nasution
Camera people: Vonia Vieira, Rahung Nasution
Subtitles:** English

Description: Tasi Timor, Timor Leste Nia (The Timor Sea belongs to Timor Leste) documents the popular demonstrations in Dili against the Australian government’s attempt to claim the oil and gas in the Timor Sea.

“Ukun Rasik An”. Documentary / 31:29 min. / Mini DV
Director & Editor: Rahung Nasution
Scriptwriter: Nuno Rodrigues Tchailoro
Cameraperson: Rahung Nasution, Vonia Vieira, John Simanungkalit
Subtitles: English

Description: Ukun Rasik An (Independence) is about the problems faced by local communities in independent Timor Leste after the end of Indonesia’s occupation. The film tells the story of communities who are dealing with these problems on their own terms.

2005

“Rock ‘n Roll With Jakarta”. Documentary / 57:53 min. / Mini DV
Director, Scriptwriter & Editor: Rahung Nasution
Cameraperson: Rahung Nasution, Adi Mulyana
Subtitles: Tetum, Bahasa Indonesia, and English

Description: Rock ‘n Roll With Jakarta portrays the ongoing struggle for justice by families of victims of the ‘New Order’ in Indonesia and Timor Leste. The film covers the establishment of the controversial new ‘Truth and Friendship Commission’, and captures the growing amnesia of political elites in Timor Leste, a country newly arisen from humanitarian tragedy.

     

2 Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan

Bukan Comentar akan tetapi sebuah Artikel
============================================

Ulasan Singkat //Camarada Lexy

Negara Timor Leste sedang menghadapi kondisi politik dan keamanan yang rumit, rapuh dan goyah, di tambah dengan krisis ekonomi yang makin edan membuat penghuni Negeri ini menjadi buas dan tak peduli nyawa terancam.

Kehadiran Pasukan Australia dan Polisi PBB sangat diharapkan masyarakat ini dalam konteks esbilitas keamanan, akan tetapi harapan ini kiranya mulai pudar atas insiden penembakan Pasukan Australia atas dua orang pengungsi di Lapangan Udara Comora ditambah dengan perampas senjata HK33 milik polisi Perbatasan UPF oleh Major Alfredo dan antek – anteknya yang disembah sebagai pahlawan Keadilan atas Negara baru ini.

Insiden ini memaksa Bapak pemegan kendali estabilitas dan kedaulatan Negara ini Xanana Gosmao untuk menatap opsi B dan memberikan instrusi kepada Pasukan Australia yang sebelumnya dicurigai sekonkol dengan Bapak Pembela Keadilan Mayor Alfredo Reinado untuk melakukan penangkapan tapi Kejaksaan Tinggi dan Pengadilan belum mengeluarkan keputusan resmi penangkapan.

Pertanyaan bagi kaum derita dinegeri ini termasuk hambaku ini adalah, sejauh mana keseriusan Pasukan Australia atas intruksi ini dan atas dasar apa ? apakah Pasukan Australia bisa dipercaya melakukan hal ini ?

Kawan, kasihan deh, dengan Opsi A yang hanya membuang waktu dan tenaga, toh akhirnya Opsi tersebut diludahi, diinjak, oleh bapak Mayor Alfredo Reinado Alves yang menjunjung tinggi keadilan untuk mengabaikan tugas di Institusi Legal F-FDTL dan melakukan Kemping di Aileu, Same, Suai, Ermera dan adegan terakhir merampas senjata legal milik pemerintah ini (huuuuhhh payah mau dibawa kemana Negeri ini ? )

Menurut Suara Timor Lorosae (STL270207 Pag 1) mengutip pernyataan Mayor Alfredo Reinado Alves bahwa dirinya bukan merampas melainkan diberikan, nah siapa yang akan dipersalahkan ? Komandan BPU ? atau Lider di negeri ini yang mengangap krisis ini seperti sampah busuk yang berdampak pada masyarakat kecil yang sudah bosan akan kebusukan politik yang dibawa angin keseluruh penjuru Negeri ini.

Pertemuan demi pertemuan, Konspirasi demi konspirasi, penyerangan stetmen politik dan dialog sudah dilakukan tetapi hasilnya Nihil seperti kuda nil yang tak mau bangkit dari lumpur (Massa aullaah) dimana sih hati nurani dan perasaan para lider politik di bumi lorosae ini ? hei bung kami bukan budak politik………….ok……camkan itu………Terima kasih

Camarada Lexy, 270207

Comment oleh Camarada Lexy

Kawan Coki, TERUS BERKARYA CHOY!

Comment oleh Marty




Tinggalkan sebuah tanggapan
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>