maubere digital army


Negara Adalah Saya
Juni 24, 2006, 3:55 am
Filed under: Catatan Dari Dili, Notes From Dili

Rahung Nasution

“Kemenangan kamarada Lu Olo dan saya bukan hanya membuat bumi Timor-Leste terguncang, tapi juga di tempat-tempat lain,” begitu bunyi pidato PM Mari Alkatiri pada penutupan kongres Fretilin, 19 Mei lalu. Empat hari kemudian, meletus pertempuran di Fatuahi, pinggiran timur kota Dili, antara tentara pemberontak yang dipimpin Mayor Alfreido Reinado dengan Falintil-FDTL. Pertempuran ini kemudian disusul dengan terjadinya perpecahan di tubuh PNTL (Polisi Nasional Timor Leste), memicu kerusuhan sosial dan akhirnya mengundang kehadiran kembali pasukan internasional di Timor-Leste, dipimpin pasukan Australia.

Pada hari Jumat, 6 Juni 2006, dari basis kekuatannya di villa peninggalan kolonial Portugis yang sejuk di kawasan pegunungan sektor tengah Timor Leste, Pousada de Maubisse, Mayor Alfredo Reinado bersama anggotanya menyerahkan 18 pucuk senjata otomatis jenis M-16, empat pistol, empat senjata rakitan dan ribuan amunisi kepada pasukan Australia.

Selama dua bulan terakhir, dari tempat yang asri dengan bunga-bunga yang semerbak di taman, Mayor Alfredo Reinado menuntut ‘keadilan’, menganjurkan penggulingan PM Mari Alkatiri, melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh politik dan juga diwawancarai jurnalis dalam dan luar negeri yang kemudian mengekspos Mayor Alfredo sebagai figur yang tak kalah populernya dengan presiden Xanana Gusmão dan menteri luar negeri Ramos Horta. Media-media Australia dan Indonesia melakukan reportase yang menguntungkan dan mendongkrak popularitas pimpinan tentara yang memberontak ini. Jurnalis David O’Shea dari SBS Australia, menyebutnya sebagai tokoh militer yang cerdas dan merupakan pemimpin masa depan yang mendapat pelatihan-pelatihan dari Australia.

Sesaat setelah penyerahan senjata, perwira menengah yang meninggalkan markas—setelah terjadi insiden Tasi Tolu pada 28 April, menolak klaim bahwa dirinya disertir. Selama ini, “Saya tetap sebagai tentara yang patuh dan loyal pada panglima tertinggi, presiden Xanana Gusmão”, ungkap Mayor Alfredo Reinado pada jurnalis di sela-sela penyerahan senjata tersebut. Begitu juga yang diungkapkan oleh Mayor Tara dan Mayor Marcos Tilman yang menyusul meninggalkan markas untuk bergabung dengan kalangan oposisi di distrik Ermera.

Jika Mayor Alfredo Reinado dan anggotanya yang meninggalkan markas merupakan tentara yang patuh dan loyal pada presiden Xanana Gusmão, maka media-media di Australia, Indonesia, juga di Timor-Leste mengeroyok Alkatiri dan menggambarkannya sebagai ‘Marxist Mozambique’ yang arogan, yang menyeret Timor Leste menuju failed stated, negara gagal.

Sebagai ‘Marxist Mozambique’ yang arogan dan memerintah Timor-Leste yang ‘gagal’, Alkatiri, dalam 49 bulan pemerintahannya membuat beberapa prestasi yang tidak menyenangkan banyak kalangan. Canberra gerah karena Alkatiri keras dalam negosiasi tentang minyak dan gas di Laut Timor. Partai-partai oposisi, yang hanya memiliki 20 % suara di parlemen, jengkel dan terus-terusan merongrong pemerintahan Alkatiri sejak diawal pemerintahan ini dibentuk karena Alkatiri enggan berbagi jatah kekuasaan. Kamerad-kamerad Alkatiri sendiri di Fretilin dari kelompok mudança (perubahan)—yang kalah telak di kongres yang lalu yang dipimpin José Luis Guterres—dan pro kebijakan pasar juga marah karena Alkatiri ingin mempersempit gerak sektor swasta.

“Biarpun Anda berteriak keras dan klaimu terdengar sampai ke Alice Spring dan memberi informasi pada media, sikap kami tetap… Biarkan kami memberi Anda sebuah pelajaran politik—bukan sebuah kemungkinan”, begitu rezim Canberra menggertak Alkatiri melalui menteri luar negerinya Alexander Downer. Namun karena keteguhan tim negosiasi Dili yang dipimpin PM Mari Alkatiri, dalam dua kali putaran negosiasi yang alot, Timor-Leste mendapatkankan haknya 50:50 atas kekayaan minyak dan gas di ladang Greatest Sunrise (awalnya Canberra mengajukan 18:82). Dili juga memenangkan 90:10 dari 80:20 yang diajukan Canberra untuk ladang Bayu Undan, Elang Kakaktua dan sekitarnya. Sebuah pelajaran politik yang menarik. Timor-Leste yang kecil dan miskin berani menghadapi Australia yang telah mengangkat dirinya sebagai Deputy Sheriff Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik.

Sejalan dengan kebijakan Australia dan Amerika, Bank Dunia mengelola dana proyek-proyek rekontruksi Timor-Leste yang bersumber dari negara-negara donor. Proyek-proyek rekonstruksi yang berlangsung pada masa transisi ini sangat menguntungkan sektor swasta. Berbagai usaha pemerintah untuk meningkatkan pelayanan publik, seperti rencana mendirikan perusahaan transportasi publik, perusahaan listrik dan rencana mendirikan perusaahan minyak negara, mendapat hambatan yang keras dari Bank Dunia yang menginginkan sektor tersebut diurus oleh swasta.

Di tengah permasalahan kemiskinan, dengan tidak tunduk pada kebijakan pertumbuhan ekonomi, pemerintah Alkatiri memberi pelayanan pendidikan secara gratis kepada rakyat mulai dari tingkat dasar sampai menengah dibarengi dengan program perbaikan gizi dengan menyediakan makanan bagi siswa-siswa di sekolah. Melalui kerjasama bilateral dengan pemerintah Cuba, Alkatiri mendatangkan ratusan doketer Cuba ke pelosok-pelosok Timor-Leste yang memberikan pelayanan kesehatan gratis. Pemerintah juga mengirimkan ratusan mahasiswa Timor-Leste belajar kedokteran ke Cuba dan mendirikan fakulutas kedokteran di Universitas Nasional Timor-Leste.

Satu persoalan baru yang membuat kalangan sektor swasta cukup marah dan tidak bisa lagi mentolerir Alktiri adalah pembentukan Petroleum Fund. Lembaga dana yang akan mengelola kekayaan pendapatan minyak dan gas ini dibentuk untuk menghindari kutukan minyak yang sering mengakibatkan kemelut petrodolar—perang dan pemiskinan yang akut. Dana yang diperoleh dikelola secara transparan dengan mengadopsi sistem Norwegia. 90 % dana akan diobligasikan di Federal Reserve Bank di Amerika Serikat untuk kepentingan jangka panjang. 10 % dana digunakan untuk proyek-proyek pemerintah dan diinvestasikan ke sektor publik. Pihak swasta menentang hal ini dan menginginkan kekayaan minyak dibagi-bagikan, dan untuk mengembangkan sektor swasta. Apakah presiden Xanana juga menentang berbagai kebijikan ini?

Minggu-minggu terakhir ini tensi politik semakin tinggi. Secara terbuka presiden Xanana ‘menghajar’ Alkatiri lewat pidato sepanjang satu setengah jam yang disiarkan RTTL pada Kamis malam, 22 Juni 2006. Dalam pidato kenegaraan tersebut, presiden meminta pada militan Fretilin untuk memikirkan kembali kepemimpinan Fretilin yang menurut presiden dipilih melalui kongres yang tidak demokratis pada bulan yang lalu. Presiden Xanana juga mengungkapkan kekecewaannya dan hilang kepercayaan pada Alkatiri yang tidak punya kemampuan menyelesaikan krisis ini.

Pada malam sebelumnya, kekecewaan tersebut dituangkan presiden melalui surat kepada Alkatiri yang meminta kesedian Alkatiri untuk mengundurkan diri setelah presiden menyaksikan program televisi ABC Australia, 4 Corners. Dalam siaran investigasi itu, Alkatiri dituding terlibat dengan mantan menteri dalam negeri Rogério Lobato (yang kini berada dalam tahanan rumah dan menjalani proses hearing di pengadilan Dili) dalam membentuk Tim Keamanan Rahasia Fretilin. Alkatiri menolak keras tudingan yang dilontarkan oleh Tim Keamanan Rahasia Fretilin yang dipimpin Railos tersebut. Alkatiri juga meminta kepada PBB untuk segera melakukan investigasi dan menyelidiki tudingan yang dialamatkan kepadanya.

Kini sudah mulai nampak jelas plot coup d’etat, seperti yang diyakini Alkatiri, terhadap kekuasaannya. Presiden telah muncul di hadapan demonstran yang berteriak-teriak “Alkatiri Teroris dan Komunis” yang dipimpin oleh pihak oposisi, Mayor Tara, Mayor Marcos dan Railos yang kini memobilisir penggulingan Alkatiri dan pembubaran parlemen. Sebagai komandan tertinggi dan penanggungjawab keamanan negara dan ‘penjaga konstitusi’, presiden secara terbuka telah menyatakan kepada rakyat Timor-Leste, khususnya kepada militan Fretilin “memilih saya atau Alkatiri.”

Jika hari ini, besok atau lusa PM Alkatiri berhasil dipaksa mundur, melalui satu mekanisme yang tidak demokratis, maka apa yang diperingatkan pemerintah Portugal sebagai konspirasi Australia dengan kalangan internal di Timor-Leste, akan menjerumuskan negara baru ini menjadi Banana Republic di kawasan Asia-Pasific dan Timor-Leste memiliki pemimpin yang kapan saja bisa menggertak, “L’etat c’est moi”—negara adalah saya. Dan yang tidak tunduk silakan menyingkir…


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: