maubere digital army


Seputar golpe dalam terompet Miles Davis
Juli 12, 2006, 2:39 am
Filed under: Catatan Dari Dili, Notes From Dili

Rahung Nasution

Malam itu aku sedang belajar menyimpan rindu. Terompet Miles Davis mengalun, Song Of Our Country dari album Sketches of Spain. “Coy, kasih tulisan tentang PM Jose Ramos-Horta, dong!” Rico Aditjondro, editor Paras Indonesia, memintaku lewat SMS.

Selama dua bulan terakhir kekacauan menimpa negeri yang mungil ini, aku hanya bisa menulis dua artikel, merekam beberapa footages ke dalam mini DV dan menulis beberapa penggal kalimat yang belum selesai menjadi puisi. Sunyi merayap lewat ujung bedil / Bayang senja memudar di Ponte Cais / Masing-masing mengusung kerandanya / Menuju Santa Cruz.

Dan di sana, di tahun 1991, di makam Santa Cruz, Max Stahl merekam satu peristiwa. Tentara Indonesia dengan brutal membantai ratusan pemuda yang menginginkan Timor-Leste merdeka. Sekarang pada tembok makam yang bersebelahan dengan Taman Makam Pahlawan yang ditinggalkan Indonesia, ada grafiti muram, “penderitaan orang Timor kapan berakhir” dan pada sebuah nisan, “Viva Alfredo ho Salsinha” “Alfredo Loromonu”. Terimakasih pada Mbak Ati dari Jakarta Post dan Nug Katjasungkana yang memotret kedua grafiti tersebut.

Major Alfreido Reinado adalah loyalis Presiden Xanana Gusmão dan salah satu pimpinan tentara pemberontak yang memaksa Mari Alkatiri mengundurkan diri. Letnan Gastão Salsinha adalah juru bicara 591 tentara petisioner yang dipecat panglima Falintil-FDTL karena alasan indisipliner, meninggalkan markas tanpa izin.

“Saya tidak percaya pada demokrasi. Saya ingin kediktatoran seperti di jaman Salazar,” kata Antero Rodrigues minggu yang lalu ketika kami mengunjunginya di Lospalos, menyingkir dari desas-desus dan fitnah yang merajalela di Dili. Dua anaknya, Paula dan Nuno Rodrigues, jadi amuk sasaran demonstran yang berkomplot untuk menjatuhkan PM Mari Alkatiri.

Tentu tidak ada yang salah dengan demokrasi. Dan Antero Rodrigues adalah generasi ‘75 yang hidup di tiga jaman yang berbeda—kolonialisme Portugis, invasi Indonesia dan Timor-Leste yang merdeka. Anaknya, Paula Rodrigues, penanggungjawab umum RTTL bersama reporter lainnya dicari-cari sekelompok orang karena public broadcasting ini menyiarkan demonstrasi Fretilin pro Alkatiri. Rumah Jacob Fernandes, wakil presiden Parlemen Nasional dari bancada Fretilin yang munguasai mayoritas kursi di parlemen dibakar kelompok anti Fretilin.

Nuno Rodrigues, aktivis Institutu Edukasaun Popular yang mendukung beberapa kebijakan politik Alkatiri, dituduh membagi-bagikan duit kepada demonstran pro-Alkatiri. Dua kawan militan Fretilin asal Lospalos, Pedrito Vieira dan Maleve, dituduh memiliki senjata. Nug Katjasungkana, aktivis Fortilos, yang dalam beberapa tahun terakhir ini bekerja untuk solidaritas Timor-Leste dan menetap di Dili, dituduh menyimpan senjata Maleve, di kamar tumpangan yang diberikan oleh Asosiasi HAK.

Kediktatoran adalah sesuatu yang menakutkan dan Alkatiri dipaksa mundur melalui cara-cara yang tidak demokratis. Dua minggu yang lalu, ketika memasuki kota Dili, di kawasan Bidau, rombongan pendukung Alkatiri dihadang demonstran tandingan. “Mereka membawa senjata dan akan membunuh kami,” lapor kelompok anti Fretilin kepada tentara Australia sambil memaki-maki Presiden Fretilin Lu Olo dan Sekertaris Jenderal Mari Alkatiri. Di kawasan Becora kelompok anti Fretilin siap-siap dengan panah.

Konvoi pendukung Alkatiri melambaikan tangan dari atas bus dan truk yang mengangkut mereka dari arah Metinaro. Sekelompok pemuda anti Fretilin mulai melakukan perusakan kios-kios di sepanjang jalan Bidau. Ada yang sedang menyulut api. Sebelumnya mereka berteriak-teriak, “Viva Xanana Gusmao!”

Ya tidak ada yang salah dengan demokrasi, dan kediktatoran adalah sesuatu yang menakutkan. Karena Alkatiri keturunan Arab dan beragama Islam, maka demonstran anti Fretilin memaki-maki “Alkatiri teroris”. Karena selama 24 tahun Alkatiri exil di Mozambique untuk menggalang dukungan bagi kemerdekaan Timor-Leste dari negara-negara Afrika dan Timur Tengah, maka Alkatiri dituding “Komunis-Mozambique” dan “Alkatiri bukan orang Timor”. Namun, Alkatiri tetaplah Alkatiri—Pendiri Fretilin, pada tahun 1970an bersama José Ramos-Horta membangun gerakan bawah tanah menentang kolonialisme Portugis dan merupakan salah satu penggagas Magna Carta CNRT.

Malam itu, sebelum Rico mengirim SMS dan sebelum terompet Miles Davis mengalun, kami menyaksikan pelantikan Dr. José Ramos-Horta lewat televisi yang disiarkan RTTL. “Saya bukan perdana menteri yang dipilih rakyat. Saya ditunjuk oleh presiden dan partai mayoritas Fretilin,” begitu PM José Ramos Horta dalam pidato pengangkatannya di Palácio das Cincaz (Istana Debu) yang dihadiri anggota parlemen, diplomat asing, Comandante Railos (yang menuduh Alkatiri membagi-bagi senjata kepada mereka untuk mebunuh lawan-lawan politik Alkatiri). Dan pelantikan ini hanya dihadiri sebagian kelompok oposisi (selain menuntut Alkatiri mundur mereka juga menuntut agar Presiden Xanana Gusmão membubarankan parlemen dan segera membentuk pemerintahan ‘junta’ Persatuan Nasional).

Pengangkatan PM José Ramos-Horta, peraih Nobel perdamaian dan pendukung Perang Irak, merupakan kompromi politik dari partai mayoritas Fretilin dengan Presiden Xanana Gusmão. Ramos-Horta akan memerintah selama 8 bulan melanjutkan pemerintahan Alkatiri yang menolak hutang pada Bank Dunia, keras dalam negosiasi dengan Australia atas kekayaan minyak dan gas di Celah Timor, menjalin kerjasama bilateral dengan Kuba dengan mendatangkan dokter-dokter ke Timor-Leste dan mengirimkan ratusan mahasiswa belajar kedokteran ke Kuba. Alkatiri juga menjengkelkan kalangan pengusaha Timor-Leste yang menginginkan sektor swasta menjadi prioritas pembangunan dan dana minyak disalurkan untuk kepentingan mereka.

“Saya akan berkonsultasi dengan presiden dan Fretilin yang mengusulkan saya,” lanjut Ramos-Horta dalam pidato pelantikannya. Adapun anggaran yang diajukan ke parlemen adalah anggaran yang dipersiapkan Alkatiri sebelum dipaksa mundur. Ramos-Horta akan dibantu oleh dua wakilnya, Estanislau da Silva (Fretillin) dan Rui Maria de Araújo (independen) yang juga merupakan usulan dari Fretilin.

Seperti yang diramalkan banyak orang, Ramos-Horta memang favorit Australia, Bank Dunia dan IMF. Awalnya juga oleh kalangan oposisi dan tentara pemberontak. Namun langkah untuk membubarkan parlemen dan membentuk junta mungkin terlalu berisiko bagi presiden Xanana Gusmão. Kiranya bayangan apa yang ada di kepala kita jika presiden Xanana Gusmão mencampakkan konstitusi dengan membentuk pemerintahan junta dan menyinkirkan Fretilin yang menguasi separuh kursi lebih di parlemen—seperti Chile di jaman Agusto Pinoche?

Maaf coy, aku tidak bisa menulis banyak tentang perdana menteri yang baru ini. Untuk sementara aku memilih diam dan mendengar lebih banyak. Sebab dua minggu yang lalu tentara pemberontak dan barisan oposisi mengelu-elukan bahwa “hanya presiden Xanana Gusmão dan Jose Ramos-Horta yang mampu menyelesaikan krisis ini!”

Saat ini, pada media massa, kelompok oposisi (melalui ketua Partai Demokratik, Fernando Lasama) dan tentara pemberontak (Mayor Tara dkk) mengatakan bahwa pemerintahan Ramos-Horta ilegal dan inkonstitusional karena merupakan kelanjutan dari pemerintahan Alkatiri. Bahkan ada yang mengatakan Ramos-Horta juga merupakan klik Maputo (Mozambique). Kelompok pengusaha tidak senang dengan Estanislau da Silva yang ditunjuk sebagai wakil perdana menteri.

Sungguh, coy! Kali ini aku hanya ingin belajar menyimpan rindu, jatuh cinta lagi dan memikirkan kawan-kawan kita sambil mendengar terompet Miles Davis. Kali ini dari album Kind of Blue, So What.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: